WAKILI SEKNAS, KOORDINATOR GUSDURIAN BANDUNG HADIRI PERSEMIAN MASJID GUS DUR SITU PANJALU: Diharapkan Masjid dapat Melahirkan Pemikiran Progresif
blank

Panjalu bukan tempat yang aneh dan asing bagi sosok Kyai Haji Abdurahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Panjalu menjadi salah satu tempat bersejarah dalam perjalanan hidup Gus Dur, khususnya berkenaan dengan perjalanan Spiritual.


Sejak tahun 1999, Gus Dur sudah menginjakan kaki di tempat ini. Beliau kemudian memerintahkan untuk membangun sebuah masjid. Kunjungannya berlanjut, kurang lebih pada tanggal 5 Juli 2000 untuk berziarah kembali ke Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu, Ciamis ketika menjabat sebagai presiden RI, beliau kembali datang ke tempat yang sama dan menandatangani prasasti pembangunan masjid.


Intruksi pembangunan masjid ini tentu bukan sekedar basa-basi atau hanya formalitas belaka. Terdapat pertimbangan spiritual dan pertimbangan rasional yang melatarbelakangi instruksi tersebut.
Tentu, pertama pertimbangan spiritual itu adalah napaktilas sejarah penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat khususnya di Periangan Timur berawal dari sini. Dengan lain perkataan, Panjalu adalah cikal-bakal Keislaman di Jawa Barat bagian Timur. Tokoh sentral yang ada di sana adalah Prabu Sanghyang Borosngora (dikenal juga sebagai Prabu Hariang Kencana atau Syekh Abdul Iman / Syekh Panjalu. Pusaranya masih ada di tengah pulau yang ada di Situ Panjalu. Masjid menjadi penanda pusat spiritual masyarakat Muslim. Alasan kedua, yaitu alasan rasional. Dengan banyaknya para peziarah yang datang untuk ngalap berkah (mencari keberkahan), tentu kehadiran masjid menjadi hal yang krusial untuk mendirikan solat atau bahkan hanya sekedar istirahat saja.


Pembangunan Masjid langsung dimulai, dari tahap planing dan tahap-tahap selanjutnya. Namun dalam perjalanannya sempat menghadapi berbagai macam rintangan, termasuk dalam segi pembiayaan. Tentu, dengan kerja keras dan solidaritas gotong royong, pembangunan masjid bisa berjalan dengan lancar.


Pada tahun 2026, panitia pembangunan beserta pengusrus Yyasan yang tergabung dalam Yayasan Masjid Raya Situ Panjalu (YMRSP), bersilaturahmi menyambangi Ibu Sinta Nuriyah untuk meminta pandangan terkait nama masjid. Ibu dari 4 anak perempuan ini memberikan 2 alternatif, pertama nama masjidnya adalah “Masjid Abdurahman Wahid” atau yang kedua “Masjid Gusdur.” Setelah dimusyawarahkan secara matang, maka dipilihlah nama masjidnya menjadi “MASJID GUS DUR”. Alasannya karena panggilan Gus Dur lebih dikenal daripada panggilan Pak Abdurahman Wahid.


Acara seremonial peresmian nama Masjid ini kemudian dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 12 September 2026. Acara seremonial ini juga diisi dengan momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammmad Saw.
Acara dimulai dengan pemukulan rebana sebagai pertanda diresmikannya nama “Masjid Gus Dur.” Pemukulan rebana ini dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat, ada Bapak Dr. H. Uce K Sugand selaku tokoh sentral yang juga adalah Sesepuh Yayasan Masid Raya Situ Panjalu, Ketua MUI, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Ciamis, Camat, Danramil, Kapolsek dan Kepala Desa, Bapak Jamiludin selaku Koordinator Gusdurain Banudng yang mewakili Sekretariat Nasional.
Dilanjut dengan Pembacaan ayat Suci al-Quran, pembacaan maulid nabi Kitab Al-Barzanji dan kemudian sambutan para tokoh, dilanjutkan dengan Tausiah dan doa. Begitulah rangkaian acara sebagaimana rangkaian acara seremonial Hari Besar Islam Pada umumnya.


Selaku Sesepuh Yayasan, Bapak Uce memberikan sambutan yang cukup memberikan wawasan, baik wawasan sejarah masjid ataupun harapan-harapan akan masjid Gus Dur ini sendiri. Mantan Direktur BJB itu, menegaskan bahwa nama Masjid Raya Situ Panjalu tetap digunakan secara legal dalam dokumen-dokumen resmi, sedangkan nama Masjid Gus Dur itu sebagai nama ikonik dan digunakan dalam penyebutan sehari-hari (komunikasi umum). Penamaan ini juga bertujuan agar nilai-nilai Keislaman, Kemanusiaan, Keadilan, Persaudaraan, Penghormatan Keberagaaman, Kecintaan Budaya, serta Kepedulian Kesejahteraan Umat. Nilai-nilai itulah yang diharapkan dapat melekat pada masjid ini, sebagaimana yang telah Gus Dur perjuangkan semasa hidupnya.
“Kedepannya, Masjid Gus Dur ini diarahkan untuk berkembang melalui enam pilar: Masjid Sebagai Pusat Ibadah dan Pembianaan; Masjid sebagai Pusat Keilmuan dan Pendidikan; Masjid sebagai Pusat Sosial dan Pemberdayaan; Masjid sebagai Pusat Kemandirian Ekonomi; Masjid sebagai Pusat pengembangan Lingkungan Hijau; Masjid sebagai pusat Ekowisata, Sejarah dan Kebudayaan.” Tegas Bapak Uce dalam inti sambutannya.


Mubalig, K.H Hilmi Muhammad menyinggung bahwa dakwah bil hal adalah dakwah yang paling ampuh untuk menyebarkan Islam karena masyarakat akan cenderung mengikuti tokoh atau seseorang yang memberikan contoh, bukan seseorang yang pandai bicara. Kesuksesan Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam adalah contoh yang sangat konkret. Dengan memberikan Nama masjid ini dengan “Masjid Gus Dur” mubalig yang juga adalah Ketua MUI Kota Tasikmalaya itu berharap masjid dan masyarakat ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain, tidak Hana pandai bicara layaknya Gus Dur.
Demikian juga dengan yang disampaikan oleh perwakilan Sekretasiat Nasional, Jamiludin. Seknas berharap masjid ini dapat mencetak tidak hanya ahli ahli agama, melainkan juga melahirkan tokoh-tokoh pemikir yang memiliki demikian progresif untuk menghadapi kemajuan zaman.


“Dengan ngalap berkah dari penamaan masjid ini menjadi Masjid Gus Dur. Sejalan pula dengan semangat dan spirit sembilan utaman nilai keteladanan dan perjuangan gusdur, kami berharap mesjid bukan hanya menjadi tempat ritual beribadah dan dakwah semata, tetapi menjadi pusat edukasi yang inklusif, pusat gerakan pemberdayaaan dan ekonomi umat , tempat menjalin ukhwah islamiyah (Persaudaraan) pusat menanamkan nilai niali kemanusiaan dan penghormatan kearifan lokal. Mudah-mudahan di Masjid ini akan melahirkan generasi-generasi yang tidak hanya cakap dalam membicarakan agama, tetapi cakap pula membicarakan masalah intelektualitas agama yang progresif untuk menghadapi kemajuan zaman yang semakin hari semakin maju. Tentu ini sebagai berkah dan tafaul dari nama Gus Dur itu sendiri yang tidak hanya menjadi ahli agama, melainkan tokoh pemikir Islam Prgresif” Jamilludin dalam sambutannya.

Konsultasi Hukum Gratis
Scroll to Top